Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 April 2010

Batu Kuno Inggris Berhubungan dengan Kematian

Dunia90 Jakarta - Sembilan batu megalitikum yang ditemukan di wilayah terpencil Dartmoor Inggris memiliki fitur yang sama dengan batuan Stonehenge. Batuan itu diperkirakan berhubungan dengan kematian.

Megalitikum Dartmoor yang berdasarkan penanggalan karbon berkisar 3500 sebelum masehi dapat memberikan tanggal ulang pada Stonehenge susuna bataun raksasa luar biasa di Inggris.

Kedua situs tersebut merupakan sejumlah batu besar yang menandai terbitnya matahari pertengahan musim panas dan matahari di pertengahan musim dingin. Monumen batu Dartmoor lain yang disebut Drizzlecombe memiliki orientasi yang sama.

Arkeolog Mike Pitts, editor jurnal mengatakan sejumlah besar tulang babi muda panggang ditemukan di dekat Stonehenge, mengindikasikan bahwa binatang lahir di musim semi dan dibunuh tidak jauh dari situs untuk makanan di pertengahan musim dingin.

“Secara umum matahari menjadi simbol untuk menandai peristiwa, bukan ritual itu sendiri, jadi itu mungkin bukan untuk penyembahan matahari,” tambah Pitts yang juga penulis buku Hengeworld dan salah satu ahli megalitikum Inggris.

Pesta makan tersebut bukan hanya pesta babi tanpa arti dan mungkin saja mirip perayaan setelah pemakaman di masa sekarang.

Pitts percaya bahwa fenomena ketika matahari terjauh dari garis khatulistiwa mungkin ada hubungannya dengan kematian.[ito] www.Inilah.com

Jumat, 05 Februari 2010

Cahaya Api Menakjubkan di Langit Irlandia

Jakarta - Penampakkan bola api dilaporkan melintas di langit Irlandia Kamis malam (04/02). Cahaya menakjubkan itu terjadi sekitar 18.00 waktu setempat.

Diperkirakan bola api tersebut adalah batuan angkasa yang meluncur turun dengan kecepatan 100 ribu mil per jam atau sama dengan ledakan bom atom kecil di angkasa.

Astronom Irlandia David Moore mengatakan, “Ini adalah kejadian besar.”

Moore mengindikasikan bahwa benda langit itu mendarat di daratan bukan di lautan. Seorang pria yang berada di area Kildare menjadi saksi mata bola api mengatakan dia pikir itu adalah pesawat terbang yang datang dari luar angkasa.

Penjaga pantai Valentina mengatakan mereka menerima beberapa laporan telepon dari area Kerry yang berada di wilayah tengah Irlandia Utara menyangkut penampakkan itu.

Joss Scott sedang mengendarai mobilnya di jalan Glenshane Pass ketika dia memergoki bola api tersebut.

“Benda tersebut sangat terang dengan ekor oranye keluar darinya. Kecepatannya luar biasa, sangat tinggi di langit dan terbang menuju ke utara.. Kemudian tertutup awan hitam melalui Sperrins menuju Dungiven lalu cahaya oranye, jadi saya tidak yakin akan mendarat di mana. Sangat spektakuler!,” ujar Scott.

Terry Moseley dari Asosiasi Astronomi Irlandia mengatakan peristiwa tersebut ekstrim langka dan ada kesempatan benda tersebut selamat jatuh di bumi sebagai meteorit.

“Kemungkinan benda tersebut adalah asteroid kecil yakni bagian batuan angkasa yang berbenturan dengan bumi dan terbakar di atmosfer yang sangat tinggi,” jelas Moseley.

“Tampaknya benda itu terbang melintasi sebagian besar wilayah Irlandia dari selatan ke utara dan ada peluang jatuh sebagai meteorit di suatu tempat di are Armagh,” tambah Moseley.

Terakhir kali sebuah meteorit menghantam Irlandia adalah pada tahun 1999 dan batu yang jatuh tersebut ditemukan di area Carlow dan terjual seharga US$500 per gram.

Badan Astronomi Irlandia meminta kepada siapapun yang melihat penampakan dan merekamnya agar dimasukkan ke situs www. astronomyireland.ie.[ito]

Sumber: inilah.com

Kamis, 04 Februari 2010

Danau Tondano Terancam Menjadi Kering

Danau Tondano yang berada di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), terancam dangkal atau kekeringan, karena kurangnya penanggulangan lingkungan dari pemerintah dan masyarakat.

"Masyarakat terkesan kurang serius menangani persoalan di Danau Tondano yang bisa berakibat penurunan debit air secara signifikan," kata Kepala Badan Pengelolah Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Tondano, Widiasmoro Sigit, di Manado, Rabu (3/2/2010).

Menurutnya, setiap tahun debit air danau itu turun sekitar 40 hingga 50 centimeter (cm) dan bisa kering 15 hingga 20 tahun mendatang.

Kondisi Danau Tondano diperparah dengan ancaman pemanasan global, tidak adanya penghijauan, meningkatnya aktifitas masyarakat, pembalakan liar, kebakaran, konversi hutan, pertambangan golongan C yang mengakibatkan erosi dan sedimentasi.

"BP DAS Tondano hanya menangani persoalan di aliran sungai dari Danau Tondano, tetapi merasa prihatin dengan kondisi Danau yang saat ini terjadi degradasi," katanya.

Akibat degradasi lingkungan di danau itu, kedalaman danau menjadi sekitar 20 meter dari permukaan, padahala pada 1934 dalamnya mencapai 40 meter, sedangkan tahun 1983 sekitar 27 meter.

Anggota DPRD Sulut Steven Kandouw mengaku prihatin dan berharap pemerintah daerah menghijaukan kembali pesisir danau itu.

Menurutnya, Danau Tondano memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia, seperti menyuplai air bersih ke Perusahaan Air Minum di Minahasa, Minahasa Utara serta Kota Manado, menjadi media budidaya ikan tawar, pembangkit listrik Tanggari dan Tonsea serta pariwisata.

Sumber:Kompas.com

Rabu, 03 Februari 2010

Meteorit Lebih Keras daripada Berlian

Jakarta - Peneliti yang menyelidiki potongan meteorit mendapat hasil mengagetkan. Batu kristal yang mengandung karbon itu ternyata lebih keras dari berlian yang terbentuk di bumi.

“Penemuan terjadi secara tidak sengaja, tetapi kami yakin bahwa dengan mempelajari meteorit tersebut akan mengarahkan kepada temuan baru dalam sistem karbon,” ujar Tristan Ferroir dari Universitas de Lyon di Prancis.

Ferroir adalah penulis utama dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Sains Bumi dan Planet 15 Februari 2009.

Para peneliti menggosok sebuah potongan meteorit Havero kaya karbon yang jatuh ke bumi di Finlandia pada tahun 1971. Ketika mereka kemudian mempelajari permukaan yang dipoles tersebut ditemukan titik penuh karbon yang jumlahnya sangat banyak di bagian permukaan. Temuan itu memberikan petunjuk bahwa area tersebut lebih keras daripada berlian yang digunakan untuk memoles.

“Hal ini sebenarnya tidak mengejutkan,” ujar peneliti berlian Changfeng Chen dari Universitas Nevada di Las Vegas.

Dia menjelaskan bahwa beberapa kali selama proses grafit dapat menciptakan bentuk tidak beraturan bentuk zonanya yang tahan terhadap gesekan berlian.

Tetapi apa yang kemudian terjadi pada meteorit Havero adalah lapisan grafit terguncang dan panas untuk menciptakan batasan di antara lapisan tersebut.

Tim Ferroir mengambil langkah selanjutnya dan menempatkan kristal tahan berlian di bawah penyelidikan instrumen analisis mineral keras untuk mempelajari bagaimana struktur atomnya terbentuk.

Hal tersebut mengantarkan peneliti untuk menemukan fase baru polimorf karbon kristal sebagai salah satu tipe berlian yang diprediksi punah ribuan dekade lalu tetapi kenyataannya tidak pernah ditemukan hingga saat ini.

“Struktur baru tersebut sangatlah menarik,” ujar Chen. “Memberikan peneliti beberapa petunjuk, jadi kami dapat mencoba membuatnya di laboratorium dan kemudian menginvestigasinya.”[ito]

Sumber: inilah.com